Berkunjung Ke Kelompok Tani Mulur, Kediri “Kelompok Tani Organik yang Mandiri”

Berkunjung Ke Kelompok Tani Mulur, Kediri “Kelompok Tani Organik yang Mandiri”

Kediri – Pertanian organik merupakan pertanian yang memperhatikan agroekosistem yang ada di lingkungan sekitar sehingga menciptakan linkungan pertanian yang berkelanjutan. Produk organik menjadi produk yang memilIki nilai jual tinggi karena aman bagi kesehatan. Konsep pertanian organik yang mudah akan tetapi sulit dalam penerapannya terkadang menjadi kendala bagi masyarakat. Oleh karena itulah Mahasiswa Agroteknologi UNIDA Gontor dari semester 7 berkunjungan ke salah satu Kelompok Tani Organik bernama Kelompok Tani Mulur, Ahad (7/10)

Kelompok tani yang terletak di Desa Kencong, Kecamatan Kepung, Kediri ini di ketua oleh Bapak Agus. Memulai  mengkonversi lahannya menjadi organik pada tahun 2010. Penerapan pertanian organik dimulai secara mandiri oleh Pak Agus dan Pak Ali. “Awal mula kami menerapkan pertanian organik, kita dianggap orang gila oleh petani lain”, ungkap Bapak Agus disertai dencap tawa kecilnya. Seiring berjalannya waktu usaha keras mereka dilirik oleh pemerintah dan mendapat bantuan untuk melakukan sertifikasi organik, serta pemasaran oleh Pemerintah Kabupaten Kediri.

Produk Beras Organik Kelompok Tani Mulur

Tercatat beberapa prestasi yang telah diraih oleh Kelompok Tani Mulur antara lain mendapat Juara 1 kategori lahan konversi terbaik diantaara 300san desa pesaing bekerjama dengan Bumdes. Selain itu produk yang dihasilkan seperti beras putih organik berbagai varietas dan bekatul organik telah tersertifikasi LeSOS. Selain itu dalam hal uji dan produksi mereka juga mendapat tawaran kerjasama dengan Fakultas Teknik Pertanian UGM dan Balai Besar Wilayah Sungai Brantas.

Kunjungan ke Lahan Organik

Kegiatan kunjungan Mahasiswa dimulai dengan inspeksi lahan padi organik yang terlatak kurang lebih 500 meter dari rumah kediaman Bapak Agus. Selain Pak Agus ada juga petani organik yang hadir seperti Pak Ali, Pak Nanang dan juga Pak Eko. Di lapang mereka menjelaskan menejemen pertanian organik yang telah diterapkan. Letak lahan padi mereka tidak berdekatan, karena tidak semua hamparan lahan padi di daerah itu adalah organik sehingga beberapa menejeman perlu diterapkan.

Diantara menajemen pertanian organik yang telah diterapakan antara lain, water treatment pada irigasi, pengaturan jarak dan tinggi bedeng dengan lahan konvensional, penggunaan arang dan eceng gondok pada water treatment pada untuk menetralisir bahan kimia dari lahan konven, penggunaan Mol, arang, dan bahan organik seperti pupuk kandang lainnya saat olah tanah, penanaman tanaman refugia pada di sekiling lahan, penggunaan kayu apu untuk mengikat N, penerapan pola tanam SRI, menghindari pemakaian pestisida, penggunaan MOL dan biopostisda untuk pengendalian hama dan penyakit.

Diskusi Bersama dengan Petani Organik

Setelah kunjungan lapang kemudian dilanjutkan dingan diskusi ringan di kediaman rumah Bapak Agus. Beberapa pertanyaan dilontarkan mahasiswa seperti masalah penyiangan, olah tanah, pengendalian hama, seleksi benih sampai dengan pemasaran dan sertifikasi. Dari sinilah timbul lingkungan keilmuwan yang unik perpaduan antara petani dan akademisi. Sesekali Dosen Pembimbing juga menambahkan jawaban agar mahasiswa mengetahuinya secara ilmiah.  

“Pertanian Organik itu pertanian yang sehat, pertanian yang simple. Tujuan kenapa menerapakan pertanian organik tak lain adalah untuk generasi selanjutnya agar tidak sengsara melihat lahan pertaniannya telah rusak. Meskipun penuh dengan cemooh orang lain, itu biasa, yang terpenting niat yang kuat semua pasti ada jalannya. Dalam penerapan yang terpenting dan utama adalah menejemen tanah terlebih dahulu, jika lahan sudah sehat maka tanaman akan sehat juga. Kami senang dengan begini bisa tukar ilmu dan pengalaman dengan mahasiswa. Semoga bisa menambah wawasan dan bisa mendapat gambaran jika ingin berkecimpung di pertanian organik”, pesan dari beberapa petani organik yang hadir.