Formulasi Tablet Biofertilizer Azotobacteria sp dan Tricordema sp

Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dapat menimbulkan dampak negatif, baik untuk tanaman maupun tanah. Pupuk organik memiliki kuantitas yang besar dalam penggunaan-nya dilahan serta dapat menurunkan hasil pertanian yang signifikan saat masa peralihan dari penggunaan pupuk kimia ke pupuk organik. Penggunaan pupuk hayati (biofertilizer) merupakan alternatif yang dapat diharapkan untuk memenuhi kebutuhan hara bagi tanaman, khususnya unsur hara N dan memiliki sifat ramah lingkungan. Pemanfaatan mikroba Azotobacter sp sebagai pengikat N dan jamur Trichoderma sp sebagai biofungisida, biodekomposer, dan agensia hayati menjadikan kolaborasi yang sangat menguntungkan, terutama dalam formulasi pembuatan pupuk hayati dalam bentuk tablet. Bahan pembawa yang saat ini banyak digunakan adalah tanah gambut. Tanah gambut sebagai bahan pembawa belum tentu tersedia di semua daerah, sedangkan masih terdapat alternatif bahan pembawa lain, misalnya limbah batang aren.

Limbah Batang Aren

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui komposisi limbah batang aren yang tepat bagi pertumbuhan bakteri Azotobacter sp dan Trichoderma sp dalam pembuatan tablet biofertilizer. Maqosid syaria’h dalam penelitian ini menggunakan konsep ekonomis (الاقتصاد) dengan tujuan hifdzul mall (menjaga harta).

Tablet Biofertelizer

Penggunaan tablet biofertilizer diharapkan lebih ekonomis, baik dari biaya produksi maupun penggunaan-nya di lahan. Penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan RAL Faktorial dengan 2 faktor perlakuan. Perlakuan pertama adalah formulasi media pembawa (F) yang terdiri dari perlakuan media pembawa yaitu 100% gambut (F1), kombinasi 75% gambut + 25% limbah batang (F2), 50% gambut dan 50% limbah batang aren (F3), kombinasi 25% gambut dan 75% limbah batang aren (F4), dan 100% limbah batang aren (F5). Perlakuan kedua yaitu masa simpan (M) yang terdiri dari 4 taraf masa simpan. Perlakuan masa simpan (M) yaitu bulan 0 (M0), 1 (M2), 2 (M3), dan 3 (M4). Terdapat 20 kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali ulangan. Sedangkan kerapatan Azotobacter sp dan Trichoderma sp (K) yang digunakan sebanyak 1:1 per-kombinasi. Data yang diperoleh akan dianalisa dengan menggunakan ANOVA, apabila ada perbedaan antar perlakuan, maka dilanjutkan dengan uji lanjut Uji Duncan dengan tingkat kepercayaan 95%. Untuk mengetahui hasilnya baca lanjutan artikel yang sama berikutnya.

By : Vonda Bimantara

Artikel terkait : Penggunaan Nematoda Entomopatogen Sebagai Biopestisida