MENGENAL LEBIH DEKAT TANAMAN TEH DI INDONESIA

Sejarah Tanaman Teh

Sejarah Indonesia dari masa koloial sampai sekarang tidak bisa dipisahkan dengan perkebunan, karena perkebunan merupakan sector penting dalam membangun ekonomi dan kehidupan masyarakat Indonesia. Perkebunan dapat menjadi peluang masyarakat dalam mengenal ekonomi dunia, memegang ketahanan sandang dan pangan, tetapi sector ini juga bisa menjadi sumber ancaman penindasan, penjajahan serta kemiskinan. Sejak dahulu sejarah kolonialisme barat di Indonesia adalah sejarah perkebunan itu sendiri. Sejak awal kedatangan barat ke Indonesia yang identitasnya sebagai pedagang sampai mereka menjadi masa-masa mereka identic menjadi penguasa dan pemilik modal, perkebunan salah satu yang menjadi faktor inti untuk perkembangannya.

Para pemetik teh di masa kolonial. Foto: andriyantomi

Sejarah teh Indonesia pertama kali di mulai pada abad ke-17, tepatnya di tahun 1684. Pada tahun itu, Andreas Cleyer membawa masuk biji teh sinensis ke Jakarta. Kebun Raya Bogor yang telah dibangun pada tahun 1817 juga akhirnya melengkapi koleksi tanaman dengan teh pada tahun 1826. Pada tahun 1827 dimulai lah penanaman teh sinensis dalam skala luas di Wanayasa dan Gunung Raung. Melihat kesuksesan dari penanaman di tahun 1827 ini, akhirnya perkebunan teh skala besar mulai dibangun di berbagai wilayah Pulau Jawa. Pelopor dari penanaman ini adalah Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh berkebangsaan Belanda. Teh ini sendiri menjadi salah satu jenis tanaman yang masuk ke dalam program cultuurstelsel atau lebih akrab dikenal dengan istilah tanam paksa di tahun 1830.
Sistem tanam paksa pada tahun 1830 ini memaksa petani untuk menanam teh di tanah yang telah dibeli oleh pemerintah. Ternyata, komoditas satu ini sangat meledak pada sekitar tahun tersebut. Hal ini kemudian membuat pemerintah kolonial menjalankan sendiri perkebunan teh selama 30 tahun. Periode meledaknya teh di Indonesia ini merupakan awal lahirnya budaya yang ada hingga saat ini. Pada sekitaran tahun ini masyarakat Pulau Jawa meminum teh di pagi hari sebagai bagian dari kebiasaan. Yang menyedihkan, teh yang mereka minum hanya teh kelas 2 karena teh terbaik diperuntukkan untuk ekspor.

Ekspor teh kering olahan dari Pulau Jawa ke Amsterdam tercatat pertama kali di tahun 1835. Kesuksesan ini berujung pada swastanisasi perkebunan pada tahun 1836. Tak lagi dikelola oleh VOC, pada tahun ini perusahaan swasta dibebaskan untuk melakukan kegiatan produksi tehnya sendiri.

Indonesia sering disebut sebagai salah satu produsen teh terbesar di dunia. Bahkan, tidak sedikit yang menyebut teh Indonesia merupakan salah satu yang terbaik. Namun fakta di lapangan tidak sesuai dengan omongan orang dan berita. Data dari Statista pada tahun 2014 menyebut, Tiongkok merupakan negara yang paling banyak memproduksi teh. Tercatat pada tahun 2014 saja Tiongkok mampu memproduksi 1.980.000 ton teh. Menyusul di peringkat kedua dan ketiga adalah India dan Kenya. Dalam data tersebut dijelaskan Indonesia berada di peringkat ketujuh dengan total produksi “hanya” 132.000 ton. Jumlah ini tentu berbanding jauh dari Tiongkok. Bahkan, produksi Indonesia tidak lebih dari 7% total produksi Tiongkok. Data ini menunjukkan bahwa ada yang salah dengan produksi teh di Indonesia, padahal hampir separuh dari total produksi ini diperuntukkan untuk ekspor.

Salah satu penyebab utama adalah kebanyakan petani teh kecil kekurangan kemampuan finansial dan keahlian untuk mengoptimalkan produksi. Kebanyakan tanaman teh Indonesia dihasilkan dari biji, padahal metode terbaik adalah dengan melakukan stek. Stek dari daun terbaik tentunya akan menghasilkan daun baru yang juga berkualitas. Kebanyakan teh Indonesia yang di-ekspor adalah teh yang dihasilkan oleh perkebunan besar. Teh dari perkebunan ini dipercaya memiliki mutu yang jauh lebih tinggi dibandingkan teh yang dijual di dalam pasar Indonesia. Pasar Indonesia sendiri akhirnya diisi oleh teh yang dihasilkan dari petani-petani kecil yang menggunakan teknologi lama dan metode pertanian yang sederhana serta tidak memiliki fasilitas pengolahan.

Hal ini makin diperparah dengan prospek perkebunan kelapa sawit yang lebih menguntungkan. Banyak petani teh yang akhirnya menyerah dan akhirnya merelakan kebun untuk ditanami kelapa sawit. Data terbaru yang dilansir oleh BPS di tahun 2018 menunjukkan bahwa produksi teh di Indonesia pada tahun 2018 berada di kisaran angka 139.000 ton. Wilayah Jawa Barat masih memasok angka terbesar dengan 96.315 ton. Tampaknya produsen teh terbesar dunia hanya bagian dari sejarah teh Indonesia. Diantara semua provinsi di Indonesia ada 3 provinsi produser teh terbesar yaitu Jawa Tengah, Jawa Barat dan Sumatra Utara. Teh Indonesia dikenal karena memiliki kandungan katekin (antioksidan alami) tertinggi di dunia. Kebanyakan produksi teh Indonesia adalah teh hitam, diikuti oleh teh hijau. Akan tetapi hampir setengah teh di Indonesia diekspor ke luar negeri.

Produksi Tanaman Perkebunan teh di Indonesia

Syarat tumbuh tanaman teh

Iklim untuk budidaya teh yang tepat yaitu dengan curah hujan tidak kurang dari 2.000 mm/tahun. Tanaman memerlukan matahari yang cerah. Suhu udara harian tanaman teh adalah 13-25 C.Kelembaban kurang dari 70%. Untuk media tanamnya jenis tanah yang cocok untuk teh adalah Andasol, Regosol, dan Latosol. Namun teh juga dapat dibudidayakan di tanah podsolik (Ultisol), Gley Humik, Litosol, dan Aluvia. Teh menyukai tanah dengan lapisan atas yang tebal, struktur remah, berlempung sampai berdebu, dan gembur. Derajat kesamaan tanah (pH) berkisar antara 4,5 sampai 6,0. Berdasarkan ketinggian tempat, kebun teh di Indonesia dibagi menjadi tiga daerah yaitu dataran rendah sampai 800 m dpl, da-taran sedang 800-1.200 m dpl, dan dataran tinggi lebih dari 1.200 m dpl. Per-bedaan ketinggian tempat menyebabkan perbedaan pertumbuhan dan kualitas teh. Ketinggian tempat tergantung dari klon, teh dapat tumbuh di dataran rendah pada 100 m dpl sampai ketinggian lebih dari 1000 m dpl (Setyamidjadja, 2000).

Persiapan Lahan

Persiapan lahan dimulai dengan pembongkaran tunggul-tunggul dan pohon sampai ke akar agar  tidak  menjadi sumber penyakit akar. Lahan yang digunakan untuk penanaman baru dapat berupa hutan belantara, semak belukar atau lahan pertanian lain, yang telah diubah dan dipersiapkan bagi tanaman teh. Secara umum  urutan  kerja persiapan lahan bagi penanaman baru adalah sebagai berikut.

  1. Survey dan pemetaan tanah, survey dan pemetaan tanah perlu dilakukan karena berguna dalam me-nentukan sarana dan prasarana yang akan dibangun seperti jalan-jalan kebun untuk  transportasi dan kontrol, pembuatan fasilitas air, serta pembuatan peta kebun dan peta kemampuan lahan.
Alat Theodolit Untuk Menentukan Tinggi dan Sudut Tanah. Foto Nindya Haftary

2. Pembongkaran pohon dan tunggul, pelaksanaan Pembongkaran pohon dan tunggul dapat dilakukan dengan tiga cara berikut:

  • Pohon dan tunggul dibongkar langsung secara tuntas sampai keakar-akarnya, agar tidak menjadi sumber penyakit akar bagi tanaman teh.
  • Pohon dapat dimatikan terlebih dahulu sebelum dibongkar dengan cara pengulitan pohon (ring barking), mulai dari batas permukaan tanah sampai setinggi 1m. setelah 6-12 bulan, pohon akan kering dan mati.
  • Pohon dimatikan dengan penggunaan racun kimia atau aborosida seperti Natrium arsenat atau Garlon 480 P. Pada cara ini kulit batang dikupas berkeliling selebar 10-20cm, pada ketinggian 50-60 cm dari atas tanah, kemudian diberikan racun dengan dosis 1,5 g/cm lingkaran batang. Pohon akan mati setelah 6-12 bulan, yaitu setelah cadangan pati dalam akar habis. Batang ditebang pada batang leher akar dan tunggul ditimbun sedalam 10 cm dengan tanah.

3. Pembersihan Semak Belukar dan Gulma

Setelah dilaksanakan pembongkaran dan pembuangan pohon, semak belukar dibabat, kemudian digulung kemudian dibuang ke jurang yang  tidak ditanami teh, atau ditumpuk di pinggir lahan yang akan ditanami. Sampah tersebut tidak boleh dibakar karena pembakaran akan merusak keadaan teh, membunuh mikroorganisme tanah yang berguna, dan akan membakar humus tanah, sehingga akan menyebabkan tanah menjadi tandus. Pembersihan gulma dapat juga menggunakan bahan kimia yaitu herbisida dengan dosis yang telah tercantum dalam merk dagang.

4. Pengolahan Tanah

Maksud pengolahan tanah adalah mengusahakan tanah menjadi subur, gembur dan bersih dari sisa-sisa akar dan tunggul, serta mematikan gulma yang masih tumbuh. Areal yang akan ditanami dicangkul sebanyak dua kali. Pencangkulan pertama dilakukan sedalam 60 cm untuk menggemburkan tanah, membersihkan sisa-sisa akar dan gulma. Sedangkan pencangkulan kedua dilakukan setelah 2-3 minggu pencangkulan pertama, dilakukan sedalam 40 cm untuk maratakan lahan.

Alat Pengolah Tanah

5. Pembuatan Jalan dan Saluran Drainase

Setelah pengolahan selesai selanjutnya dilakukan pengukuran dan pematokkan. Ajir/patok dipasang setiap jarak 20 m, baik kearah panjang maupun kearah lebar. Dengan demikian akan terbentuk petakan-petakan yang berukuran 20m x 20m atau seluas 400 m2.

Selesai membuat petakan selanjutnya pembuatan jalan kebun. Dalam pembuatan jalan kebun ini hendaknya dipertimbangkan faktor kemiringan lahan serta faktor pekerjaan pemeliharaan dan pengangkutan pucuk. Dengan demikian jalan kebun dibuat secukupnya, tidak terlalu banyak yang menyebabkan tanah terbuang dan tidak terlalu sedikit sehingga menyulitkan pelaksanaan pekerjaan di kebun (Darmawijaya, 1977).

Kesimpulan

Teh adalah tanaman yang banyak dikonsumsi seluruh penduduk di dunia, teh berasal dari Tiongkok. Pada abad ke-16 mulai diekspor ke Eropa dan menjadi minuman yang popular dan banyak diminati. Sejarah teh Indonesia pertama kali di mulai pada abad ke-17, tepatnya di tahun 1684. Iklim untuk budidaya teh yang tepat yaitu dengan curah hujan tidak kurang dari 2.000 mm/tahun. Tanaman memerlukan matahari yang cerah. Suhu udara harian tanaman teh adalah 13-25o C.Kelembaban kurang dari 70%. Untuk media tanamnya jenis tanah yang cocok untuk teh adalah Andasol, Regosol, dan Latosol. Derajat kesamaan tanah (pH) berkisar antara 4,5 sampai 6,0. Berdasarkan ketinggian tempat, kebun teh di Indonesia dibagi menjadi tiga daerah yaitu dataran rendah sampai 800 m dpl, da-taran sedang 800-1.200 m dpl, dan dataran tinggi lebih dari 1.200 m dpl.

Referensi ;

Penulis : Faisal Nur Amirudin (Mahasiswa Prodi Agroteknologi)