Penggunaan Nematoda Entomopatogen Sebagai Biopestisida

Berbagai dampak negatif yang ditimbulkan insektisida kimia sudah kita ketahui, beberapa dampak negatif seperti dapat menyebabkan kematian pada musuh alami, pencemaran lingkungan, menimbulkan keracunan pada manusia dan menimbulkan ledakan hama. Oleh karena itu diperlukan pengembangan alternatif pengendalian hama yang efisien dan aman dengan menggunakan biopestisida seperti Nematoda Entomopatogen Steinernema spp. Nematoda adalah mikroorganisme berbentuk cacing berukuran 700-1200 mikron dan berada di dalam tanah.  Nematoda entomopatogen telah dipergunakan untuk mengendalikan serangga hama pada tanaman pangan, perkebunan, rumput lapangan golf serta tanaman hortikultura. Nematoda pada umumnya mempunyai bentuk tubuh seperti cacing, transparan, panjang dan agak silindris, dan diselubungi oleh kutikula non seluler yang elastis.

Lebih dari sepuluh tahun, nematoda patogen serangga dari famili Steinernematidae telah banyak digunakan sebagai agensia hayati pengendali hama. Salah satu nematoda dari famili Steinernematidae yang sering digunakan sebagai agensia hayati adalah Steinernema. Nematoda patogen serangga banyak dijumpai secara alami di tanah dengan membawa bakteri simbionnya dan merupakan patogen yang dapat menyebabkan kematian pada berbagai serangga hama. Steinernema masuk ke dalam tubuh serangga melalui integumen, spirakel, anus, dan mulut. Salah satu kunci keberhasilan infeksi nematoda ke dalam inangnya adalah dengan berhasilnya dilepaskannya bakteri simbion ke dalam tubuh inangnya. Setelah dilepaskannya bakteri simbion ke dalam tubuh inang maka bakteri simbion akan menyebabkan inang mengalami septisemia dan kemudian akan mati.

Mekanisme Infeksi Nematoda Pada Inang

Nematoda entomopatogen membunuh hama serangga karena berperan sebagai endoparasit, khususnya pada dinding usus, tubulus malphigi, ovarium dan hemocoel. Beberapa manfaat dan keunggulan nematoda sebagai agensia pengendalian secara hayati yaitu sebagai berikut :

  1. Mempunyai kemampuan aktif untuk mencari mangsa (menemukan inang)
  2. Bersifat selektif pada jenis serangga tertentu
  3. Mampu membunuh inang dalam waktu yang relatif singkat (< 24 jam)
  4. Dapat digunakan secara sinergistik dengan insektisida
  5. Mudah untuk dikembangkan secara massal
  6. Aman bagi organisme non target dan lingkungan
  7. Mudah di aplikasikan dengan alat semprot standar yang umum digunakan untuk pestisida kimia.

Beberapa kelebihan dari nematoda entomopatogen dan bakteri simbionnya dibanding agens hayati lainnya adalah dapat diaplikasikan terhadap lahan yang telah terkontaminasi oleh residu pestisida. Selain itu juga bakteri tersebut dapat mematikan serangga inang dengan cepat, menyediakan nutrisi yang cocok, dan membuat lingkungan yang cocok bagi perkembangan dan reproduksi nematoda. Bakteri simbion mampu memproduksi senyawa antimikroba seperti antibiotik, bakteriosin, dan fages yang dapat menghambat perkembangan mikroorganisme sekunder yang ada di dalam tubuh serangga inang. Selama perbanyakan nematoda, cadangan makanan di dalam bangkai serangga menurun sampai terbentuk dauer juvenil, kemudian bakteri disimpan kembali oleh dauer juvenil.

Nematoda Membunuh Hama Ulat (Spodoptera litura)

Gejala dan tanda serangga yang terinfeksi nematoda dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu efek internal, eksternal dan perilaku. Gejala umum yang terjadi adalah serangga akan berhenti bergerak dan makan, lalu terjadi perubahan warna. Kematian serangga akan terjadi secara septisemia dalam waktu beberapa jam sampai tiga hari tergantung temperatur dan spesies nematoda. Nematoda entomopatogen dan bakteri simbionnya sebagai biopestisida relatif aman digunakan, baik bagi lingkungan maupun manusia. Berbeda dengan pestisida sintetik yang berdampak buruk baik terhadap lingkungan maupun bagi manusia.

Kaya dan Gaugler (1993 dalam Lacey et al. 2001) mengemukakan bahwa nematoda entomopatogen tidak dapat menyerang manusia, tanaman, hewan vertebrata, dan banyak hewan avertebrata. Juga merujuk pada beberapa pengujian dilaporkan bahwa nematoda entomopatogen tidak dapat menginfeksi katak, kadal, mencit, tikus, Guinea pig, kelinci, ayam, ikan, dan monyet serta manusia (Akhurst dan Smith  2002). Contoh paling nyata adalah sebanyak 75 orang yang bekerja pada perbanyakan nematoda entomopatogen selama periode 12 tahun dan pekerja di laboratorium yang melakukan penelitian tentang nematoda entomopatogen lebih dari 20 tahun tidak pernah dilaporkan terinfeksi oleh nematoda entomopoatogen (Bedding  2000 dalam Akhurst dan Smith 2002) Oleh karena itu penggunaan nematoda entomopatogen ini aman bagi lingkungan dan manusia.

By : Syahrul Mubarok

Artikel Terkait : Pohon Mimba; Manfa’at dan Kegunaan Bagi Tanaman