Mahasiswa Agroteknologi Kunjungi UPT Pengawasan Sertifikasi Benih

Penasaran dengan Proses Sertifikasi Benih, Mahasiswa Agroteknologi Kunjungi UPT Pengawasan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura, Surabaya

Surabaya – Penasaran dengan proses sertifikasi benih, Mahasiswa Agoteknologi semester 6 UNIDA Gontor, berkunjung ke UPT. Pengawasan Sertifiaksi Benih Tanaman (PSBT) Pangan dan Hortikultura, Surabaya. Rabu, 10 April 2019.

Kunjungan ini merupakan kunjungan akademik guna bekajar lebih jauh tentang materi sertifikasi benih pada mata kuliah teknologi benih yang diampu oleh ustadzah Niken Trisnaningrum, S.P., M.Sc.

Berdiri 1980 an, saat ini PSBT memiliki 6 satgas di setiap daerah di Jawa Timur, antara lain :

  1. Wilayah Kerja Surabaya, Gresik, Tuban, Lamongan, Sidoarjo, Madura, Jombang,
  2. Wilayah Kerja Madiun, Ponorogo, Ngawi, Pacitan
  3. Wilayah Kerja Kediri, Blitar, Tulungangung, Trenggalek, Nganjuk
  4. Wilayah Kerja Malang, Pasuruan, Probolinggo, Mojokerto
  5. Wilayah Kerja Jember, Bondowoso, Lumajang
  6. Wilayah Kerja Banyuwangi, Situbondo

PSBT dilandasi oleh Peraturan Menteri Pertanian No. 12 Tahun 2018 tentang Produksi, Sertifikasi, dan Peredaran Benih Tanaman, yang merupakan pengganti Peraturan Menteri Pertanian No. 56 Tahun 2015 tentang Produksi, Sertifikasi, dan Peredaran Benih Bina Tanaman Pangan dan Tanaman Hijauan Pakan Ternak.

Azaz Enam Tepat
Azaz Enam Tepat

Terdapat “Azaz Enam Tepat” yang berkaitan tentang benih, yaitu varietas, mutu, waktu, tempat, jumlah dan harga

“Sebelum disertifikasi, dilakukan terlebih dahulu penelitian dan pengembangan benih, sebelum dilepas dilarang diedarkan, sebelum diedar dilepaskan oleh pemerintah baru benih unggul yang dilepas pemerintah merupakan benih bina, dan layak untuk disertifikasi”, ungkap Bapak Santoto Pambudi, Ketua PSBT, Surabaya.

Pemaparan Ketua PSBT
Pemaparan Ketua PSBT

Dalam pengawasan benih bina, seorang petugas fungsional akan mengecek mulai dari olah lahan, tanam, vegetatif, generatif, masak, panen, pangambilan pasca panen, dan mutu benih.

Tenaga fungsional disini tidak dapat digantikan, sehingga perannya sebagai advokat sangat penting untuk menentukan benih layak atau tidak untuk di sertifikasi. Dalam perusahaan ada tenaga QS (Quality Control), akan tetapi berdasarkan undang-undang perusahaan besar harus mendapat persetujuan advocate atau inspektor benih.

Bapak Eko, sebagai tenaga fungsional menjelaskan bahwa benih yang disertifikasi dan dipasarkan harus memperhatikan sifat-sifat yang diunggulkan, terutama sifat agronomis yang memiliki nilai ekonomis.

Pemaparan dari Pihak PSBT
Pemaparan dari Pihak PSBT Tenaga Fungsional

“Diantara sifat-sifat yang perlu di perhatikan adalah umur tanaman, daya hasil, ketahan terhadap OPT, katahanan terhadap cekaman lingkungan, ketahanan terhadap penyimpanan, toleran benih terhadap kerusakan mekanis, mutu hasil dan nilai gizi, kandungan zat-zat tertentu yang bermanfaat”, tambahnya.

“Benih yang beredar di masyarakat harus di awasi untuk menjaga produktivitas, tertama tanaman padi, 1 wilayah harus menggunakan 1 varietas untuk mempermudah produktivitas”, ucap Santoto.

Penyerahan Cedramata
Penyerahan Cendramata

“Saya berharap dengan adanya mahasiswa yang berkunjung, bisa menambah ilmu dan pengalaman, silahkan bagi yang mau menjadi advokat sertifikasi benih bisa disini, sehingga kalian bisa memiliki keahlian dibidang pengawasan sertifikasi benih”, tambah Santoto.

Berita Terkait : Prodi Agroteknologi Rintis Kerjasama dengan BLK Wonojati Malang