KEANEKARAGAMAN HAYATI DALAM PANDANGAN ISLAM

Keanekaragaman hayati penting dalam membentuk ekosistem serta memberikan daya dukung bagi kehidupan di Bumi, oleh karena itu dalam al-qur’an manusia dianjurkan tidak membuat kerusakan di bumi yang terdapat pada ayat 26-27 Al-baqorah. Islam telah membentuk adanya suatu kesadaran terhadap peran penting keanekaragaman hayati dan hukum untuk menjaga kelestariannya. Islam sangat menyadari peran penting keanekaragaman hayati tersebut yang termaktub dalam surat An –Nahl ayat 66 dan 80, dari ayat tersebut kita mendapatkan informasi bahwa hewan dapat menjadi sumber atas pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan. Pada surat al Mu’minun ayat 19 ditemui penjelasan akan fungsi tumbuhan untuk pemenuhan kebutuhan pangan, sedangkan pada surat Yaasin ayat 80 disampaikan tentang fungsi tumbuhan sebagai sumber energi. oleh karena itu Islam turut berperan serta dalam melakukan perlindungan keanekaragaman hayati melalui hukum Islam.

Lingkungan Hidup

Perlindungan terhadap keanekaragamaan hayati dalam pandangan Islam ditunjukkan melalui berbagai aturan yang bersumber dari Al-Quran, hadits dan fatwa para ulama serta juga ditunjukkan dengan praktek keberadaan institusi konservasi yang dikenal dengan nama Hima dan Zona Harim. Hima adalah sama dengan kawasan lindung atau kawasan konservasi, sedangkan Zona Harim adalah adalah zona terlarang, yang merupakan ketetapan Islam dalam melarang pembangunan atau membatasi bangunan rekayasa manusia yang mengganggu sumber-sumber alam. Harim merupakan lahan atau kawasan yang sengaja dilindungi untuk melestarikan sumber-sumber air, sumur, danau, sumber mata air, sungai, aliran air, jalan, dan fasilitas publik lainnya yang diperuntukkan guna mencegah kerusakan terhadap fasilitas tersebut dan melindungi kawasan tersebut dari bahaya.

Keanekaragaman Hayati

Beberapa hadis yang menunjukkan aturan dalam menjaga keanekaragaman hayati adalah H.R  Al-Tirmidzi “Barang siapa menebang (tanpa alasan yang membenarkan), maka Tuhan akan mengirimnya ke neraka” (H.R. Ahmad).

Selain hadits tersebut perlu juga kita memperhatikan pendapat salah satu ulama besar Islam, yakni Ibnu Taymiyah sebagai berikut : ”Berburu binatang karena untuk memenuhi kebutuhan diperbolehkan, jika untuk kesenangan dan permainan dibenci.

Pandangan Islam Terhadap Keanekaragaman Hayati

Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia serta negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia mempunyai peran penting untuk mengembangkan dan memanfaatkan tradisi hukum Islam dalam perlindungan keanekaragaman hayati dalam lingkup pengaturan hukum nasional guna meningkatkan partisipasi umat Islam secara global.

Sumber : http://oaji.net/articles/2016/3905-1473405969.pdf