Menilik Prosepektus Agribisnis Buah Indonesia di Kampung Organik Indonesia

Kuliah Tamu di Kampung Organik

Selayang mata memandang, terlihat ribuan bibit buah hasil sambung susuk memenuhi kebun seluas 1 hektar di Kampung Organik Indonesia. Kebun yang terletak di Desa Jetis, Kecamatan Siman, Ponorogo ini adalah milik Dwi Rifianto, yang telah memulai bisnis di bidang Agro sejak 2007.

Melalui Kuliah Tamu dengan tema “Prospektus Agribisnis Buah di Indonesia” pada Sabtu (5/10) mahasiswa diajak berkeliling kebun untuk mengetahui penerapan teknologi yang sedang dikembangkan, yaitu UHDP (Ultra Hight Density Plantation).

UHDP merupakan sistem perkebunan dengan penerapan jarak tanaman yang pendek, kanopi luas dan tinggi tanaman yang relatif kerdil hasil perkembangbiakkan vegetatif. Beberapa komoditas yang ada antara lain kelengkeng, jambi biji, durian, mangga, kelapa kopyor, kurma, anggur, cabai dan bawang merah. Selain itu juga terdapat peternakan kambing dan ayam KUB.

Kuliah Lapang Pemapatan Teknologi UHDP
Kuliah Lapang Pemaparan Teknologi UHDP

Mahasiswa juga diberi bekal mengenai peluang usaha di bidang pertanian. Melalui pemaparanya alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor ini menjelaskan perjalanan bisnisnya mulai dari penangkar padi dan budidaya beberapa tanaman pangan, sampai menjajaki hortikultura seperti saat ini. Menurutnya buah memiliki peluang dan keuntungan yang jauh lebih besar dibandingkan tanaman pangan, selama manajemen kita terapkan salah satunya menejemen offseason.

Beberapa prestasi telah banyak diraih oleh Kampung Organik Indonesia, seperti petani teladan provinsi, nominasi produk organik sehat nasional oleh kementan, diundang untuk berdiskusi bersama petani dari negara-negara di Asia dsb. Selain itu beberapa komoditas seperti cabai dan bawang telah berhasil diekspor ke Jepang.

“Keunggulan bisa diukur secara kompetitif dan komperatif, jika Jepang menguasai bisnis mesin dan otomotif di dunia, maka kita memiliki keunggulan sebagai negara agraris. Di situlah keunggulan kita dan menjadi bisnis yang tidak akan pernah mati”, ungkap Dwi Rifianto.

Selain memiliki bisnis pertanian organik, Dwi Rifianto juga aktif untuk melakukan edukasi melalui OLC (Organic Learning Center). OLC merupakan pusat edukasi yang memberikan wawasan dan pelatihan pertanian organik kepada petani, anak sekolah dan juga mahasiwa melalui kunjungan lapang, FGD ataupun magang.

Roadmap kedepan Kampung Organik Indonesia mengintegrasikan bisnis pertanian dari input sector, production sector, industrial sector sampai market sector. Rencaanya tempat tersebut akan diperluas menjadi agrowisata pusat plasma nuftah berbagai komoditi buah tropika. Selain itu juga akan mengembangkan toko dan restoran dengan bahan baku organik.

“Hidup itu penuh dengan dimensi, seorang akademisi mengatakan, jika 5% SDM di Indonesia adalah seorang peneliti maka Indonesia menjadi negara yang maju, beda dengan Pengusaha yang mengatakan jika 5% SDM di Indonesia adalah pengusaha maka Indonesia menjadi negara yang Makmur”, nasehatnya.

Menjadi seorang Enterpreneur bukan pekerjaan orang yang tidak berpendidikan atau dalam kata lain kurang pintar, justru seorang Enterpreneur adalah mereka yang cerdas secara intelektual dan emosional serta memilki mental yang kuat.