Tanah Berkapur: Bisakah untuk Ditanami? Bagaimana Islam berpendapat?

Tanah Kapur Di Indonesia

Indonesia memiliki keanekaragaman wilayah daratan yang dapat dilihat dari jenis tanah seperti sifat fisik, kimia, biologi serta mineralogi. Salah satu jenis tanah yang ada di Indonesia adalah tanah berkapur. Menurut (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, 2014) tanah berkapur dijumpai pada lahan kering dataran rendah maupun lahan kering dataran tinggi yang didominasi oleh tanah Alfisols, Mollisols, Entisols, Vertisols, Inceptisols, Mollisol dan Andisol. Menurut (BPS, 2013) luas total dataran di Indonesia adalah 191, 09 juta ha. 144,47 juta ha atau 75,60% adalah merupakan lahan kering dengan dataran rendah mencapai 111,33 juta ha atau 77,06% dan dataran tinggi 33,4 juta ha. Penyebaran lahan kering secara berurut didominasi di wilayah  Bali dan Nusa Tenggara, Jawa, Sulawesi, Papua dan Sumatra.

Tinjauan Menurut Islam

Luas baku lahan kering yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian adalah tegalan, yaitu sekitar 14,6 juta ha dengan produksi pangan hanya 5,53 juta ha. Sehingga terdapat cukup besar peluang untuk bisa mamanfaatkan area lahan melalui intensifikasi lahan kering yang didominasi oleh tanah berkapur tersebut. Pemanfaatan tanah kurang optimal adalah bagian dari menghidupkan kembali lahan mati menjadi lahan produktif yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. Dalam islam tanah yang terbengkalai karena tidak ada pemiliknya atau karena belum termanfaatkan disebut الارض الموات (Al-Ardhu al-mawaat). Hukum Islam mewajibkan manusia mendayagunakan tanah mawat (ihya’ al-mawat). Menurut istilah fiqih, ihya’ al-mawaat  adalah “Membuka tanah mati yang belum pernah ditanami dan menjadikan tanah tersebut dapat memberikan manfaat untuk tempat tinggal, bercocok tanam, dan lainnya” (Sabig, 1988 dalam Zainab, 2010).

Tanah Berkapur

Untuk bisa mangoptimalkan fungsi tanah berkapur, beberapa karakterisitik yang harus diperhatikan diantaranya sifat fisika dan kimia tanah berkapur yang dipengaruhi oleh aktivitas CaCO3  yang di mengakibatkan tanah bersifat basa (FAO, 2014). Unsur P pada dijerap oleh  Casehingga bersifat immobile (tidak larut). Akibatnya hanya tanaman tertentu yang bisa toleran pada kondisi tersebut (Thian dan Eashira 2008). Mikroorganisme yang dibutuhkan tanah berkapur adalah mikroorganisme pelarut yang dapat melarutkan fosfat tidak tersedia menjadi bentuk tersedia, sehingga bisa diserap oleh tanaman (Rohani, et al. 2011).

Penelitian dan pemanfaatan mikroba pelarut P sudah mulai dilakukan sejak tahun 1930-an (Waksman dan Starkey, 1931; Gerretsen, 1948). Negara yang mula-mula memproduksi mikroba ini sebagai pupuk hayati adalah Rusia (bekas negara Uni Sovyet) pada tahun 1947. Inokulan pelarut P ini cukup luas dimanfaatkan di negara-negara Eropa Timur dengan nama dagang fosfobakterin. Produk ini dilaporkan terdiri dari kaolin yang membawa 7 juta spora bakteri Bacillus megaterium varietas phosphaticum setiap gramnya. Selanjutnya dikemukakan bahwa fosfobakterin memberikan hasil yang paling baik pada tanah-tanah netral sampai basa dengan kandungan bahan organik tinggi, seperti pada tanah-tanah Chernozem (Smith et al., 1961). Penelitian jasad renik pelarut P juga banyak dilakukan di India, Kanada, dan Mesir dengan tujuan untuk melarutkan endapan-endapan Ca-fosfat (Sen dan Paul, 1957; Kundu dan Gaur, 1980; Subba Rao, 1977; 1982). Pemanfaatan jamur tanah yang lebih dominan pada pH rendah juga memperoleh perhatian peneliti tersebut. Das (1963) melaporkan bahwa beberapa Aspergillus sp dan Penicillium sp mampu melarutkan Al-P dan Fe-P. Jenis jamur yang lain adalah Sclerotium dan Fusarium (Alexander, 1978). Bakteri yang sering dilaporkan dapat melarutkan P antara lain adalah anggota-anggota genus Pseudomonas, Bacillus, Mycobacterium, Micrococcus, Flavobacterium, Bacterium, Citrobacter, dan Enterobacter (Alexander, 1978; Buntan, 1992; Premono, 1994; Illmer et al., 1995).

https://portal-ilmu.com/wp-content/uploads/2016/11/Jenis-Tanah-di-Indonesia-854x503.jpg
Tanah Indonesia

Bagaimanakah dengan Indonesia?

Beberapa Peneliti di Indonesia telah banyak melakuan kajian peranan mikroba pada pertumbuhan tanaman, seperti pada penelitian (Premono et al., 1991) Citrobacter intermedium dan Pseudomonas putida mampu meningkatkan serapan P tanaman dan bobot kering tanaman jagung sampai 30%. Pada percobaan yang lain (Buntan, 1992; Premono dan Widyastuti, 1993), P. putida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20%, dan mikroba ini stabil sampai lebih dari 4 bulan pada media pembawa zeolit, tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan fosfat. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae (Buntan, 1992) pada tanaman jagung dapat meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29%, sedangkan Lestari (1994) yang menguji Aspergillus niger, menunjukkan bahwa mikroba tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. Pada tanaman tebu penggunaan bakteri pelarut P (P. putida dan P. fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 5-40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P asal TSP sebanyak 60-135% (Premono, 1994). Penelitian Setiawati (1998) pada tanaman tembakau, dengan menginokulasikan bakteri pelarut P dapat meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman. Dengan begitu, Indonesia memiliki peluang untuk melakukan program ekstensifikasi tanah berkapur agar bisa menjadi tanah produktif, untuk menunjang ketahanan pangan.

By : Iqbal Munir

Artikel Terkait : KAJIAN KESUBURAN TANAH UNTUK MENGAMBIL SUATU KEBIJAKAN