TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN BUAH “Inovasi Teknologi Budidaya Tanaman Kelengkeng”

PENDAHULUAN

Buah kelengkeng (Dimocarpus longan L) secara komersial bernilai tinggi di pasar internasional. Di Indonesia, buah kelengkeng termasuk buah yang banyak digemari oleh masyarakat. Permintaan buah ini cenderung meningkat dari tahun ke tahun seiring perkembangan trend buah di kalangan masyarakat. Impor buah kelengkeng ke Indonesia pada tahun 2013 sebanyak 50.105.956 ton yang tersebar masuk melalui Pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Batam, dan Tanjung Perak Surabaya (Barantan, 2014). Impor buah Kelengkeng melalui Pelabuhan Tanjung Perak tahun 2013 sebanyak 19.100.797 ton dan berasal dari negara Cina, Vietnam serta Thailand (BBKP Surabaya 2014). Pengembangan untuk memenuhi buah kelengkeng saat ini terkendala mahalnya harga bibit tanaman kelengkeng dan ketersediannya masih terbatas akibat bahan-bahan tanaman yang terbatas.

Kelengkeng (Dimocarpus longan L) di Indonesia sudah cukup lama dibudidayakan dan terdapat beberapa varietas antara lain: Kelengkeng Lokal, Pingpong, dan Diamond River dari Vietnam, kelengkeng Itoh dari Thailand dan Malaysia. Di Indonesia, kelengkeng banyak ditemukan di Pulau Jawa yang tersebar di beberapa kabupaten, antara lain Ambarawa, Magelang, Temanggung, Wonogiri di Jawa Tengah, dan Tumpang di Jawa Timur. Baru-baru ini, beberapa pekebun/petani telah berhasil mengembangkan kelengkeng di dataran rendah seperti di daerah Selarong Kabupaten Bantul yang dikenal dengan varietas Selarong (Sutopo, 2011). Di lokasi yang lain, di Kabupaten Sleman, juga berhasil mengembangkan varietas baru yang dikenal dengan Kelengkeng Super Sleman (KSS) (komunikasi pribadi dengan Yusuf Sukri Sulaiman, S.I.P., 2015).

Pertambahan jumlah penduduk yang diikuti oleh peningkatan kesejahteraan dan kesadaran masyarakat terhadap gizi akan mengarah pada peningkatan permintaan masyarakat terhadap buah-buahan. Pada tahun 2012, impor kelengkeng dilakukan hanya dengan 3 negara, yaitu dari Thailand sebanyak 29.000ton kelengkeng dengan nilai US$ 33.700.000, dari negara Vietnam sebanyak 171ton dengan nilai US$ 201.700, dan dari China sebanyak 27,5ton dengan nilai US$ 30.287 sejak Januari-Juni 2012 (El Hida, 2012). Sepanjang tahun 2013, kelengkeng impor telah masuk sekitar 120.000ton dengan nilai US$ 138.500.000 (El Hida, 2013). Lonjakan impor kelengkeng sebesar 91.000 ton dalam kurun waktu satu tahun (2012- 2013) mengindikasikan adanya permintaan pasar yang sangat besar terhadap buah kelengkeng.

Menurut Krisnamurthi,B (2011), upaya pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan permintaan buahbuahan terutama untuk memenuhi pasar internasional masih terkendala oleh faktor musim sehingga tak mampu memproduksi secara kontinyu. Padahal, permintaan buahbuahan di pasar dunia tidak mengenal musim dan menuntut pasokan yang stabil. Demikian pula halnya dengan permintaan buah lengkeng yang juga terus mengalami peningkatan dimana untuk pemenuhan kebutuhan buah lengkeng pada tahun 2003 telah diimpor sebanyak 350 ton, tahun 2011 sebanyak 53,78 ribu ton dengan nilai US $62,94 juta (BPS,2011).

PERKEMBANGAN TANAMAN KELENGKENG DI INDONESIA

Budidaya Tanaman Kelengkeng

Tanaman lengkeng (Dimocarpus longan Lour) dalam sistem klasifikasi tanaman termasuk keluarga Sapindaceae, dan satu suku dengan tanaman lechee dan rambutan (Nepheliaea). Asal mula lengkeng adalah daerah subtropik tetapi jenis tanaman ini ternyata dapat tumbuh baik di daerah panas (tropis).

Pada mulanya daerah penghasil lengkeng di Indonesia adalah dataran tinggi di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tetapi pada akhir-akhir ini beberapa petani telah berhasil mengembangkan lengkeng di dataran rendah seperti di daerah Selarong, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang dikenal sebagai varietas Selarong. Di Singkawang dan Pontianak (Kalimantan barat), Demak dan Semarang (Jawa tengah) di kembangkan beberapa varietas di antaranya diamond river, pingpong dan itoh. Ketiga varietas tersebut mendapatkan perhatian yang lebih besar karena memiliki kelebihan dibandingkan dengan jenis lengkeng yang sudah ada, antara lain: umur lebih genjah, rajin berproduksi, ukuran buah lebih besar, daging buah lebih tebal, rasa lebih manis dan pemeliharaan relatif lebih mudah. Adaptasi yang baik dari varietas lengkeng yang berasal dari Vietnam (pingpong, diamond river), Malaysia (itoh) dan Thailand (Bie Kiew, ido, dan Sichompu) tersebut merupakan salah satu indikasi bahwa lengkeng memiliki potensi besar untuk dikembangkan di dataran rendah Indonesia. (Sutopo,2011)

Keadaan Tanah yang Cocok

Lengkeng merupakan jenis tanaman pohon yang dapat tumbuh hingga mencapai tinggi sekitar 10 m dan lebar tajuk sekitar 15 m, memiliki percabangan yang banyak dan daun yang rimbun. Agar tidak mudah roboh dan untuk memenuhi kebutuhan makanannya, tanaman ini didukung oleh sistem perakaran yang baik, yaitu memiliki akar tunggang yang dalam dan akar kesamping yang luas. Oleh karena itu tanaman lengkeng yang masih bertahan hingga tua umumnya dijumpai pada tanah-tanah yang memiliki kedalaman efektif cukup dalam. Tanahtanah dangkal yang memiliki kedalaman efektif kurang dari 30 cm mungkin tidak mengganggu pertumbuhan awal tanaman, tetapi dalam jangka panjang hal tersebut akan mempengaruhi pertumbuhan maupun hasil buah.

Lengkeng dapat beradaptasi pada berbagai tekstur tanah kecuali pada tekstur liat (clay) berat dan pasir. Tanah-tanah berat yang kandungan partikel liatnya tinggi memiliki konsistensi sangat teguh, dan drainasenya sampai sangat menghambat dapat menyebabkan gangguan perakaran, yaitu perkembangan akar terhambat atau serangan penyakit busuk akar. Tanah-tanah pasir yang konsistensinya sangat lepas, dan drainasenya cepat menyebabkan tanaman mengalami gangguan pertumbuhan dan pembungaan berkaitan dengan kekurangan air serta kesuburan kimia tanah yang rendah. Penanaman lengkeng di daerah ini membutuhkan masukan teknologi yang sangat mahal sehingga dianggap tidak sesuai. Kondisi untuk persyaratan dan kriteria kesesuaian lahan untuk pertumbuhan budidaya tanaman lengkeng di dataran rendah.

Syarat Tumbuh Tanaman Kelengkeng

Lengkeng merupakan jenis tanaman yang pembungaannya di ujung ranting, dan bersifat biennial bearing yang artinya hasil tinggi dalam satu musim akan diikuti oleh hasil rendah pada musim berikutnya. Secara alami, pembungaan dan pembuahan lengkeng banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan yaitu iklim dan tanah. Dalam menentukan lokasi pengembangan, faktor iklim yang penting adalah suhu dan curah hujan, sedangkan faktor tanah yang diutamakan adalah kondisi fisik tanah (kedalaman efektif, tekstur, drainase, dan batuan permukaan). Sehingga iklim dan kondisi fisik tanah merupakan komponen utama yang digunakan untuk menilai kriteria kesesuaian lahan tanaman lengkeng.

Meskipun berasal dari daerah subtropik, tanaman lengkeng dapat tumbuh dan berbunga baik di daerah tropik asalkan terdapat perubahan musim yang tegas. Tanaman lengkeng banyak ditemukan di daerah yang memiliki suhu sekitar 15 – 30 °C. Pertumbuhan dan hasil yang baik biasanya didapatkan di daerah yang memiliki musim dingin pendek (suhu 15 – 22 °C selama 3 bulan), dan musim kemarau panjang yang panas, lembab dan basah. Setelah periode panen dan tanaman melewati periode pertumbuhan daun maksimal, kondisi suhu udara < 25 °C. dan ketersediaan air yang rendah merupakan kondisi ideal untuk periode istirahat tanaman yang akan memicu induksi pembungaan. Pada masa induksi pembungaan dibutuhkan suhu rendah (< 22 °C.) sekitar 2 bulan, jika suhu udara > 22 °C dapat menyebabkan kegagalan pembungaan.

Menurut Sutopo (2011) lengkeng dataran rendah di Indonesia, yaitu lengkeng varietas itoh, pingpong dan diamond river dapat tumbuh di ketinggian hingga 700 meter di atas permukaan laut (dpl), tetapi yang paling baik adalah di dataran rendah hingga ketinggian sampai kurang dari 500 m dpl. Di tempat yang lebih tinggi biasanya tanaman lebih lambat menghasilkan bunga sehingga pengembalian modal menjadi lebih lama. Tanaman lengkeng dapat dikembangkan di daerah yang memiliki curah hujan tahunan antara 1.000 – 3.000 mm dengan jumlah bulan kering (< 60 mm) sebanyak 3 – 6 bulan.

Secara umum fase pertumbuhan tanaman lengkeng dibagi menjadi lima fase, yaitu panen, pertumbuhan daun, istirahat, induksi pembungaan, dan pembungaan. Fase-fase tersebut berhubungan dengan kondisi iklim dan lingkungan setempat yang meliputi suhu, ketersediaan air dan nutrisi. Kebutuhan air paling besar adalah pada periode induksi pembungaan hingga akhir periode pertumbuhan daun, sebaliknya pada periode istirahat pemberian air dan pupuk N perlu dikurangi. (Sutopo:2011)

Teknologi Tanaman Kelengkeng

Teknologi off season adalah teknik budidaya untuk memunculkan buah di luar musim, dengan cara merekayasa beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seperti mengatur faktor air, faktor pupuk dan hormon serta perlakuan pasca aplikasi. Tujuan teknologi off season dapat dibagi dua yaitu: pertama murni faktor ekonomi yang digunakan untuk menaikkan harga komoditas, dimana harga buah-buahan jauh lebih tinggi dibandingkan ketika dalam musim panen, dan kedua sebagai upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat akan buah-buahan agar tersedia sepanjang tahun.

Secara garis besar teknologi off season dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:

  1. Secara Kimia/Hormonal

 yaitu dengan menggunakan bahan aktif zat pengatur tumbuh (ZPT). Pada prinsipnya teknologi agri-chemical ini merubah fisiologi tanaman dengan cara menghambat fase pertumbuhan vegetatif dengan peran hormon atau senyawa kimia tertentu, agar memunculkan fase generatif bunga dan buah. Tanaman yang ingin dibuahkan di luar musim harus memenuhi tiga persyaratan yaitu pertama Tanaman sehat, dengan ditandai percabangan yang merata, daun berwarna hijau tua, mengkilap dan tidak sedang terserang hama dan penyakit, kedua Tanaman sudah cukup umur atau sudah pernah berbunga. Pembungaan di bawah umur dapat terganggunya pertumbuhan vegetatif tanaman yang mengakibatkan postur tanaman menjadi kerdil dan tidak sehat, dan ketiga Tanaman tidak dalam fase akselarasi pertumbuhan vegetatif yang ditandai dengan pertumbuhan tunas tanaman dan daun baru.

2. Secara fisik

yaitu dengan lima cara: Kerat; mengerat pembuluh folem (kulit pohon) secara melingkar sepanjang lingkaran pohon sampai kelihatan pembuluh xylem (kayu pohon), Pruning: memangkas daun, cabang dan ranting hingga gundul atau tersisa sedikit, Pelukaan: melukai pembuluh folem dengan benda tajam, caranya dapat dengan mengerok, mencacah, memaku atau mengiris kulit kayu, Pengikatan; mengikat erat pohon dengan kawat sehingga tranpor hasil fotosintesis pembuluh floen akan terhambat, Stressing air; tidak menyiram tanaman hingga mencapai/mendekati titik layu permanen, kemudian dengan tiba-tiba melakukan penggenangan perakaran dan pangkal batang hingga jenuh air dalam waktu tertentu. Teknologi off season dengan cara fisik ini pada prinsipnya merubah perbandingan unsur karbon (C) dan nitrogen (N) dalam tubuh tanaman. Aplikasi teknologi secara fisik memerlukan kajian agar tingkat keberhasilan lebih terukur. Aplikasi dengan cara ini kecuali cara stressing air dapat mengakibatkan kerusakan pada pohon, baik fisik maupun fisiologi.

Teknologi off season dengan cara fisik stressing air ini akan menjadi kajian mendalam budidaya tanaman lengkeng pada rumah tanaman. Hal ini selain relatif tidak merusak tanaman, pengaturan kelengasan tanah (kadar air pada tanah) pada rumah tanaman lebih memungkinkan untuk dapat diatur, antara lain:

  1. Irigasi Tetes

Salah satu teknik dalam pengairan atau irigasi tanaman adalah dengan menggunakan irigasi tetes (drip irrigation) yaitu suatu sistem untuk memasok air dan pupuk, tersaring tanah melalui suatu pemancar (emiter atau dripper ) dengan debit kecil dan tekanan rendah. Air akan menyebar di tanah baik ke samping maupun ke bawah dengan gaya kapiler dan gravitasi. Bentuk sebaran air dengan menggunakan irigasi tetes tergantung pada jenis tanah, kelembaban, permeabilitas tanah dan jenis tanah. Irigasi tetes cocok untuk tanaman semak, pohon dan tanaman menjalar serta mempunyai nilai ekonomi tinggi, dapat digunakan pada semua jenis kemiringan, dan jenis tanah. Syarat penggunaan air harus menggunakan air bersih yang terbebas dari sedimen, ganggang dan endapan pupuk untuk menghindari kemacetan pada emiter

Keunggulan irigasi tetes (drip irrigation) yaitu: lahan tidak terganggu karena pengolahan tanah, siraman dan meningkatkan drainasi permukaan, perencanaan dan kontruksi murah bila penyumbatan tidak terjadi dan pemeliharaan emiter minim, biaya operasi dan pemeliharaan relatif murah, dapat diletakkan di bawah mulsa plastik dan diterapkan di daerah bergelombang, efisiensi sangat tinggi (evaporasi rendah, tidak ada pergerakan air di udara, tidak ada pembasahan daun, run off yang rendah, dan pengairan dibatasi di sekitar tanaman pokok, respon tanaman lebik baik (produksi, kualitas dan keseragaman), tidak menggangu tanah, aerasi tanah, dapat dipadu dengan unsur hara, tekanan rendah, tidak menggangu keseimbangan kadar lengas, mengurangi perkembangan serangga, penyakit dan jamur serta pencucian garam efektif karena ada isolasi lokasi.

2. Sistem Kontrol Irigasi Tetes

metode off season dengan cara stressing air, akan melibatkan dua pengaturan utama yaitu air dan temperatur air. Pengaturan jumlah dan lama pemberian air serta temperatur air akan mempengaruhi proses induksi pada pembungaan tanaman lengkeng. Sistem pengaturan air dengan kendali cerdas dapat direkomendasikan dalam metoda off season dengan cara stressing air. Secara garis besar kendali cerdas meliputi: Input untuk sistem adalah temperatur air yang diinginkan (dalam °C), sesuai fase pertumbuhan tanaman lengkeng dan kelembaban tanah (dalam %), Output yang diinginkan adalah durasi penyiraman (dalam menit), Setelah menentukan crisp yang diterima sensor, maka untuk menentukan durasi penyiraman perlu dilakukan proses: fuzzification; mengubah kedua nilai crisp input tersebut menjadi fuzzy input menggunakan fungsi keanggotaan, Rule evaluation; melakukan reasoning menggunakan nilai-nilai fuzzy input tersebut dan fuzzy rule sehingga dihasilkan fuzzy output, defuzzification; mengubah fuzzy output menjadi nilai crisp (dalam satuan detik) berdasarkan fungsi keanggotaan output.

Rekomendasi Rumah Tanaman Untuk Tanaman Kelengkeng dengan Teknologi off Season

Dalam menggunakan teknologi off season dengan stressing air pada budidaya tanaman lengkeng rumah tanaman dikaji antara lain peryaratan tanaman lengkeng agar tumbuh dengan baik termasuk syarat-syarat yang dibutuhkan dalam tiap fase pertumbuhang, kondisi lingkungan dimana rumah tanaman akan didirikan. Sehingga rumah tanaman dapat digunakan sebagai budidaya tanaman lengkeng untuk menghasilkan buah yang tersedia sepanjang tahun.

Orientasi dalam peletakan rumah tanaman membujur dari Barat ke Timur, agar sinar matahari dapat dimanfaatkan secara maksimal. Tanaman lengkeng khususnya diamond river yang mempunyai stomata pada daun yang paling banyak, penyinaran sinar matahari akan dapat memaksinalkan fotosintesis yang dapat mengoptimlkan proses pembuahan. Fasilitas pendukung yang harus disiapkan adalah listrik diutamakan untuk kebutuhan pompa air.

Dalam pemilihan bahan atap untuk budidaya lengkeng, tanaman lengkeng membutuhkan penyinaran gelombang pendek yang maksimum, termasuk budidaya yang bersifat tahunan dan dari segi biaya relatif murah dan mudah dalam pemeliharaannya (Suhardiyant, 2009). Jenis-jenis atap untuk rumah kaca. budidaya tanaman lengkeng direkomendasikan pada jenis Polycarbonat dengan kemampuan transmisivitas mencapai 91 – 94 persen dan usia ekonomis cukup tinggi antara 10 – 15 tahun dan biaya mencapai $1.25 –1.50 /ft2, transmisivitas lebih baik dan tidak terlalu kedap terhadap radiasi gelombang panjang dibandingkan bahan dari kaca).

Rumah tanaman berukuran 26 x 34 meter, yang mampu menampung 120 pohon tanaman yaitu 8 pohon ke arah lebar (4 x 2 pot dengan masing-masing diberi jarak 1 meter sehingga total 21 meter) dan 15 pohon ke arah panjang + 2 lorong 1 meter depan dan belakang, sehingga total 32 meter).

Penggunaan atap pada rumah tanaman pada budidaya kelengkeng dimaksudkan juga mencegah masuknya air ke dalam rumah tanaman, kebutuhan air yang optimal akan diatur oleh sistem irigasi yang dapat dikontrol, dengan kebutuhan minimal setara hujan 1500 – 2500 mm per tahun. Jika pemberian air berlebih dan diserahkan secara alami maka dengan curah hujan yang besar seperti kota Bogor yang dapat mencapai 3000 – 4000 mm per tahun akan mengakibatkan pertumbuhan kelengkeng tidak optimal, yaitu mempengaruhi pertumbuhan lengkeng, bahkan dapat mengakibatkan kegagalan dalam proses induksi pembungaan.

Dinding rumah tanaman ditutup dengan screen; peranan screen digunakan untuk mengurangi aspek resiko, yaitu sebagai pelindung dari serangan kelelawar. Hal ini dikarenakan buah lengkeng termasuk jenis buah non klikmakterik, dimana buah harus dipanen pada saat sudah tua dan matang. Oleh karena itu keunggulan budidaya tanaman lengkeng pada rumah tanaman adalah terbebasnya dari serangan kelelawar saat buah akan dipanen. Pada tanaman secara konvensional akan hilang kesempatan panen akibat serangan ini. Dimensi lubang screen sendiri harus memperhatikan masih dapat lolosnya lebah masuk dalam rumah tanaman mengingat lebah dibutuhkan dalam proses penyerbukan bunga lengkeng

Temperatur Kontrol termasuk Pengaturan Penutup dan Ventilasi rumah tanaman; Bentuk rumah tanaman akan menentukan baik tidaknya ventilasi. Keadaan ventilasi juga akan berpengaruh terhadap keadaan temperatur di rumah tanaman. Keadaan temperatur dalam rumah tanaman untuk tanaman lengkeng belum banyak dikaji, akan tetapi adanya kebutuhan temperatur pada setiap fase tanaman kelengkeng.

Adanya kebutuhan temperatur yang optimal pada setiap fase pertumbuhan lengkeng, penggunaan kontrol temperatur menjadi kajian yang baik terutama saat kritis yaitu pada saat induksi pembungaan, yang selama ini hanya mempunyai pengetahuan bahwa lengkeng tumbuh baik pada suhu 15 – 30 °C. Jadi budidaya tanaman lengkeng pada rumah tanaman akan berpotensi untuk dapat dikembangkan mengingat penting peranan temperatur yang dapat dikendalikan sesuai dengan kebutuhan fase-fase pertumbuhan tanaman lengkeng itu sendiri.

Perlu dikaji apakah temperatur yang dibutuhkan pada setiap fase pertumbuhan itu untuk temperatur luar atau dapat juga temperatur pada zona perakaran. Kalau yang dibutuhkan adalah temperatur pada zona perakaran maka proses pemberian irigasi tetes dengan kontrol temperatur akan lebih memudahkan.

Sistem pengaturan air pada tanaman lengkeng sangat penting terutama jika metoda stressing tanaman sebagai syarat induksi bunga akan digunakan sebagai usaha untuk mengoptimalkan proses produksi buah dalam rumah tanaman. Pemberian air pada tanaman lengkeng diberikan 5 liter per 2 hari, untuk setiap pohon. Pemberian air ini dapat sekaligus dilakukan dengan aplikasi pemupukan, pemilihan jenis pupuk harus diperhatikan kemungkinan terjadi pengendapan pada emiter irigasi tetes, karena dapat mengakibatkan macetnya aliran irigasi pada sistem.

Proses pemberian air sangat penting, karena pada dasarnya lengkeng membutuhkan setara 1500 – 2500 mm curah hujan, maka proses pemberian air perlu perhatian dan dikontrol. Secara ringkas dapat didekati dalam pemberian air yaitu Pemberian air satu-satunya sumber utama untuk tanaman lengkeng, karena tanaman sudah terisolasi dari sumber air dari luar termasuk hujan, Pemberian air perlu perhatian khusus mengingat setiap fase pertumbuhan pada tanaman lengkeng termasuk proses stressing air untuk induksi bunga memerlukan ketepatan dalam pemberian jumlah air.

Kesimpulan

  1. Lengkeng merupakan jenis tanaman pohon yang dapat tumbuh hingga mencapai tinggi sekitar 10 m dan lebar tajuk sekitar 15 m, memiliki percabangan yang banyak dan daun yang rimbun.
  2. Meskipun tanaman kelengkeng berasal dari daerah subtropik, tanaman lengkeng dapat tumbuh dan berbunga baik di daerah tropik asalkan terdapat perubahan musim yang tegas. Tanaman lengkeng banyak ditemukan di daerah yang memiliki suhu sekitar 15 – 30 oC
  3. Teknologi off season untuk tanaman lengkeng pada rumah tanaman adalah salah satu upaya untuk penyediaan buah tanpa kenal musim
  4. Teknologi off season dengan metoda stressing dapat diaplikasi pada rumah tanaman dengan memperhatikan kebutuhan air sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman lengkeng
  5. Teknologi off season untuk tanaman lengkeng pada rumah tanaman tidak terlepas kedudukan rumah tanaman, masalah desain rumah tanaman, temperatur kontrol, pompa dan saluran pipa, sistim kontrol penyediaan air, desain lantai dan pot tanaman.

Daftar Pustaka

Aldrich, J.R. and J.w. Bartok.. NRAES, New York,1994 Anonim. Study kelayakan bisnis Greenhouse Engineering tanaman klengkeng buah pingpong. Melga holticultura, Yogyakarta. 2009.

B. Krisnamurthi. Permintaan Buah-Buahan Nasional Tumbuh 12-15 persen. 2011 http://www.investor.co.id/agribusiness/ permintaanbuah-buahan-nasional-tumbuh-12-15/15262,[ 13 Jan 2012 ].

Suhardiyanto,H,. Teknologi rumah tanaman untuk iklmi tropika basah. IPB Press, Bogor, 2009

Sutopo,. Potensi Pengembangan Lengkeng di Dataran Rendah: 2011 http://kpricitrus.wordpress.com/2011/04/04/potensipengembangan-lengkeng-di-dataran-rendah/, [BPS] http://www.bps.go.id/exim-frame.php diunduh 13 Jan 2019.

El hida, R. (2012). Indonesia Beli Buah Impor Rp 8 Triliun di 2012. http://finance.detik.com/read/2013/02 /06/141608/2162689/4/ indonesia-beli-buah-impor-rp-8-triliun-di-2012 . Diakses pada tanggal: 21 Maret 2015.

Penulis : Novianto (Mahasiswa Agrotek Semester 8)