Teknologi Pencegah Kepunahan Tanaman Anggrek

Indonesia mempunyai banyak jenis tumbuhan termasuk tumbuhan epifit.  Salah satunya adalah jenis anggrek yang diperkirakan jumlah anggrek spesies lebih dari 5000 spesies. Indonesia yang kaya dengan tanaman anggrek sangat menguntungkan karena ditunjang oleh kecocokan iklim dan banyaknya jenis anggrek yang potensial. Indonesia merupakan negara dengan tingkat kekayaan plasma nutfah anggrek terbesar kedua setelah Brasil. Banyak di antara spesies anggrek itu yang merupakan anggrek endemik Indonesia.

Potensi Indonesia dalam tanaman anggrek mempunyai harapan baik, karena ditunjang oleh kecocokan iklim dan banyaknya jenis anggrek bermutu sudah terbukti, anggrek Indonesia merupakan bahan induk yang berpotensi. Anggrek dalam penggolongan taksonomi termasuk Orchidaceae.  Famili ini terdiri dari 800 genus yang beberapa diantaranya hampir punah.  Salah satu anggrek yang hampir punah adalah dari genus Grammatophyllum. Jenis Grammatophyllum yang ada di Indonesia termasuk  Riau adalah anggrek tebu (G. speciosum), anggrek sendu (G. stapeliaeflorum), anggrek macan (G. scriptum) dan beberapa varian yang ada di alam.

9 Tumbuhan Khas Indonesia yang Langka & Terancam Punah, Yuk Kita Jaga!
Anggrek tebu (Grammatophyllum speciosum)

Grammatophyllum scriptum merupakan anggrek yang hampir punah dan langka. G. scriptum menghadapi ancaman serius dari perburuan tanaman anggrek dan kerusakan habitat. G. scriptum terkenal sebagai anggrek macan. Hal ini dikarenakan mempunyai warna dasar hijau dengan totol–totol coklat yang mirip warna macan. Anggrek ini mempunyai keunggulan yaitu habitusnya yang tegap dan kuat, jumlah bunga yang sangat banyak yaitu 25-50 dan waktu berbunga cukup lama, bunga tahan lama dan tidak mudah layu. Di antara varietas dari G. scriptum yang ditemukan adalah G. scriptum var. tigrinum dan G. scriptum var. citrinum. Pada G. scriptum var. tigrinum mempunyai sepal dan petal bercak-bercak besar dan rapat serta tidak teratur berwarna coklat. G. scriptum var. citrinum panjang bunga dapat mencapai 22 meter dengan ukuran bunga 5-8 cm dengan petal dan sepal berwarna hijau. Sampai saat ini di Indonesia termasuk Riau belum banyak laporan atau penelitian tentang anggrek macan ini terutama Grammatophyllum scriptum var. citrinum.

Meskipun penyebaran G. scriptum cukup luas justru menghadapi ancaman serius dari perburuan tak terkendali serta kerusakan habitat. Perkembanganbiakan alami di habitat dengan biji sangat sulit karena lambatnya laju pertumbuhan biji dari fase biji hingga mencapai tanaman dewasa yang siap berbunga. Perbanyakan secara konvensional sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan bibit yag sangat banyak dengan waktu relatif cepat. Mungkin hal inilah yang mendasari spesies anggrek ini menjadi salah satu plasma nutfah yang dilindungi. Selain itu informasi dan laporan hasil penelitian mengenai spesies dan varian anggrek Grammatophyllum masih jarang sehingga perlu penelitian lebih lanjut. Oleh karena itu, salah satu alternatif untuk pemecahan masalah itu adalah dengan menggunakan metode kultur in vitro yang dikenal dengan metode kultur jaringan sehingga pemenuhan kebutuhan bibit tanaman anggrek akan dapat dihasilkan dengan jumlah banyak.

http://www.trubus-online.co.id/tru/wp-content/uploads/2017/11/576_-48-8-1.jpg
Kultur Jaringan

Kegunaan utama dari kultur jaringan adalah mendapatkan tanaman baru dalam jumlah banyak, waktu yang relatif singkat, mempunyai sifat fisiologis dan morfologi sama persis dengan tanaman induknya. Dari teknik in vitro ini diharapkan dapat diperoleh tanaman baru yang bersifat unggul Kultur jaringan merupakan salah satu alternatif untuk mendapatkan tanaman anggrek Grammatophyllum scriptum var. citrinum dalam jumlah yang banyak.  Pengakaran merupakan tahapan yang sangat penting dalam pembentukan planlet untuk mikropropagasi secara in vitro. Media MS (Murashige and Skoog) merupakan media yang banyak digunakan dalam kultur in vitro.

By : Muhamad Rizqi Cahyadi

Artikel Terkait Perbanyakan Bakteri Fotosintesis Dalam Skala Rumah Tangga